Tampilkan postingan dengan label #CatatanPengander. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #CatatanPengander. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Januari 2014

Kampung Caleg

Artikel ini merupakan sebuah hipotesis dari komentar dan saran yang disampaikan oleh seorang teman di warung kopi pada Kolom Komentar di social media.

Lepas Isya, di hari kamis yang lalu saya pergi ke sui raya, tempat calon “orang rumah”. Melewati simpang tiga Kodam di Ayani 2, Kabupaten Kubu Raya, tampak area tersebut sudah bersih dari Alat Peraga Kampanye Calon Legislatif. Tak ada lagi banner dan bendera partai politik yang berkibar, sepertinya alat Negara bernama Satpol PP, Dinas Kebersihan, Panwaslu dan KPU sudah bekerja keras untuk membersihkan area tersebut.  Bahkan sisa-sisa Tali dan kayu yang dipergunakan untuk membuat banner tersebut kokoh juga sudah tak ada lagi yang tertinggal. Jika seperti ini pola yang dilakukan oleh alat-alat pemerintah dalam membersihkan “sesuatu” saya sarankan kerja seperti ini dipraktekan dalam upaya pembersihan daerah agar meraih Penghargaan Adipura.
Sepulangnya saya menuliskan sepotong kalimat di media social yang saya miliki. Simpel saja, gak panjang-panjang, hanya sebuah kalimat tentang “pembersihan” atribut.  Tak lama berselang, seorang Teman yang akrab saya panggil kang yan (nama lengkapnya R.M. Husniansyah) memberikan Komentar dan ide tentang Kampung Caleg. What is it?
Setelah melakukan diskusi di Warkop akhirnya ketemulah maksud dan tujuan dari Ide tentang Kampung Caleg.  Kalau dalam notulensi yang saya catat, terbersit pengertian bahwa Kampung Caleg merupakan sebuah area khusus yang disediakan oleh KPU di semua tingkatan. Mulai dari Desa/Kelurahan, Kecamatan dan Kota / Kabupaten yang memberikan keleluasaan bagi semua peserta pemilu untuk memasang atribut, menggelar acara dan memberikan pendidikan-pendidikan Politik dengan konsep terpadu dan terlokalisir. Kampung Caleg dapat ditempatkan di Lapangan SepakBola, Stadion Olah Raga maupun tempat-tempat terbuka lainnya yang dapat diakses oleh semua pihak. Disana dapat ditemui berbagai macam alat peraga kampanye, mulai dari stiker, kartu nama, buku-buku dan berbagai macam atribut yang disediakan oleh Peserta Pemilu untuk menarik minat para pengunjung sekaligus calon pemilih. Kalo perlu setiap akhir pekan juga disediakan senam massal, bazaar murah, sembako murah dan lain sebagainya untuk memberikan masyarakat alternative dalam menentukan pilihan.  Selain itu Kampung Caleg juga dilengkapi dengan para SPG yang menawarkan Program-Program dari Peserta Pemilu, selain itu ada hiburan rakyat yang dilakukan setiap hari, pementasan music, drama, seni teater, seni lukis dan berbagai macam hiburan dan fasilitas yang disediakan dan lagi-lagi semuanya untuk mencari simpati serta dukungan masyarakat pemilih agar bersedia mendukung, merestui dan MENCOBLOS Calon Legislatif pilihan hati nuraninya.
Kampung Caleg ini dibuka pada setiap tingkatan wilayah pemerintahan, dibuka pada setiap desa, kecamatan dan Kota/Kabupaten. Bagi para pemilih pemula tentu dengan keberadaan kampong caleg dapat membantu pemahaman mereka terhadap proses demokrasi yang ada di Indonesia, tak lupa juga disana ada pameran tentang demokrasi dan galeri foto-foto hasil jepretan para fotografer.
Gagasan Kampung Caleg ini tentu menjadi sebuah tawaran menarik agar tidak ditemukan lagi atribut-atribut yang dipasang disembarang tempat. Dan kesempatan untuk para caleg pemula dalam mendulang suara juga terbuka secara luas, karena setiap caleg mendapatkan tempat yang sama, ruang sama dan waktu yang sama untuk memperkenalkan serta menawarkan potensi dirinya sebagai calon legislative.
Tapi ini hanya gagasan saja, diskusi warung kopi yang tidak lagi disusupi kata Mohon Doa Restu dan Mohon Dukungannya.

Pontianak, Seminggu Menjelang Tahun Kuda, dalam diskusi dibawah lampion-lampion khatulistiwa.


Bung Fajrin

Rabu, 22 Januari 2014

Kopi Pancong Kamis

Segelas Kopi Pancong pagi ini memberikanku Pencerahan, tentang obrolan pengamat politik ala warung kopi di seberang mejaku. Mereka menyayangkan penertiban atribut yang dilakukan oleh petugas tanpa memberikan opsi kemana harus bersosialisasi. Sayup-sayup kudengar mereka kesal setengah mati.. Tapi ya aku maklumi sajalah, tanpa bermaksud membela petugas, tokh para petugas yang membersihkan atribut tersebut juga bagian dari system yang dibangun, mereka harus laksanakan tugas demi bangsa dan Negara. Persoalan pencabutan atribut tersebut, mungkin saja peserta pemilu menempatkan alat peraga kampanyenya di tempat-tempat yang dilarang.
Tak lama berselang, seorang kawan pun datang, caleg kota Pontianak yang juga menjadi pengusaha muda di kota ini. Sambil tersenyum dia bilang : Tambah lagi kopinya kawan, biar obrolan semakin panjang… (Nie pengusaha nyuruh nambah kopi doang, gak nyuruh ngambil rokok juga nie L) sambil menghirup minuman kesehatannya sebotol 2 liternya,, dia mulai membuka cerita, cerita tentang apa? Cerita tentang blog ini. Cerita ini bermula disaat dia memprotes kenapa di blog ini hanya menampilkan nama-nama caleg saja, tak ada nama-nama anggota KPU atau Panwaslu. Masyarakat yang mengakses blog ini akan mengenal caleg saja, tapi tak mengenal siapa2 pejabat public mereka.  Saya selaku admin terdiam sejenak, bingung mau jawab apa? Coz memang judul blog ini calegkalbar2014 bukan kpukalbar2014, sama dengan pertanyaan wartawan tempo hari, kenapa saya membuat blog ini? Padahal gak ada yang nyuruh atau memberikan  perintah untuk ngerjain nie blog. Ya saya juga bingung, kenapa saya ngerjakan blog ini.. Tapi ya sudahlah, blog ini juga sudah jadi, bisa dibaca oleh masyarakat pemilih. Beda kalo hanya rencana atau wacana doang, yang mengharuskan adanya realisasi baru bisa disebut aksi.
Berpartisipasi di dunia politik tak mesti menjadi peserta pemilu, pertama kali aku ikut pemilu tahun 1999, waktu itu masih hangat2nya reformasi, ditawarkan menjadi KAMRA untuk pengamanan pemilu, pake sepatu boot ala militer. Gak ada seram2nya potonganku waktu itu. Di Pemilu 2004 aku ikut sebagai pemantau disalah satu lembaga, lumayan dapat baju kaos dan buku tulis. Lokasi pemantauanku pun cukup jauh dari kota. Di Lokasi Pengungsian Kerusuhan tempatku bertugas, masyarakat yang homogen menyebabkan pilihanku terhadap  calon DPD menjadi unik karena hanya aku yang milih di TPS tersebut, yang lainnya sama, tak ayal semua yang hadir disaat penghitungan suara melihatku. Dan tahun 2009 aku mencoba terjun untuk menjadi caleg. Partainya tak perlulah kusebutkan, namun dari Peserta pemilu tahun ini tak kulihat bendera partaiku dulu berkibar diantaranya. Setahun yang lalu saat pencalegan, sempat namaku masuk bursa disalah satu partai politik, namun urung kulanjutkan karena aku masih berorientasi untuk mengejar thesisku yang harus kelar di tahun 2013. Tapi aku tak menyerah, saat beberapa rekan mendorongku untuk mendaftar ke KPU pun tak aku lakukan, alasannya tak perlulah kusebutkan disini. Saat itu aku mulai sedikit apatis terhadap dunia politik, acuh tak acuh, sampai pada akhirnya sebuah Koran bekas di warung kopi aming diletakkan dimejaku saat pelayannya membersihkan meja-meja yang kosong. Kulihat sepintas Koran tersebut, ku bolak-balik halamannya. Tak lama pelayan pun bertanya : mau dibaca atau mau dibuang bang? Aku jawab : sebentar, aku ingin membacanya sejenak. Dan setelah itu kutemukan halaman khusus tentang pengumuman daftar calon sementara legislative yang dibawahnya ada nama teman ngopiku. Dan untuk berikutnya nama-nama tersebut sudah kusalin ke satu blog yang kubuat khusus. Maka wajar jika didalam blog ini tidak menggunakan template atau themes yang macam2 bentuknya. Seminggu yang lalu seorang fotografer dan social media activis serta owner wedding organizer menegurku, mereka bertanya kenapa blog ini berwarna dasar hitam, karena dalam dunia yang lebih luas, hitam lebih menggambarkan sebagai sebuah sikap pemberontakan atau “outrules”, aku juga bingung untuk menjawabnya karena warna hitam putih blog ini murni disebabkan laptop pinjaman ku warnanya juga gak begitu cerah. Jadi warna hitam dan putih kupandang cukup netral untuk melihat dan mengerjakan blog ini secara berkesinambungan.
Kembali ke diskusiku dengan caleg tadi, beliau memintaku untukku mengupdate blog ini dengan daftar nama anggota KPU dan Panwaslu se Kalimantan Barat, lalu kutanyakan ke beliau, adakah Koran atau klipingan berita tentang daftar nama penyelenggara pemilu. Beliau menjawab Iya, ada. Lalu ditanyakannya kembali kapan kira-kira nama penyelenggara bisa masuk ke blog ini, aku jawab tunggulah saat total visitornya 150.000. Okelah jawabnya.  Kira-kira berapa aku harus membayar untuk publikasi nama2 mereka tersebut di blog ini? Untuk terakhirnya aku juga kebingungan. Tapi ya sudahlah, kalo itu baik untuk semua, cukup segelas kopi pancong dan rokok dunhill sebungkus. Oke Katanya. :D

Bung Fajrin

Dalam Segelas Kopi Pancong dan Rokok Dunhill sebungkus di Aming Coffee